Friday, August 10, 2012

Oh Tuhan, ternyata..


Hi baru bikin cerpen nih, dibaca ya ^^ maaf kalo ga bagus hehe


                Masih dengan tatapan kosong, Lyra menduduki kursi di kelas pelajaran terakhir. Tatapannya lurus, dingin, dan tajam. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dibenaknya. Sudah beberapa bulan Lyra terlihat murung seperti ini. Dan semenjak kemurungannya beberapa bulan terakhir, Lyra berubah menjadi sosok yang pendiam, suka murung, tidak seceria dulu.
 Tiba-tiba dari belakang seseorang menepuk punggungnya..
                “Hi! Kok mukanya kamu manyun banget sih? Masih ingat kejadian itu?”
                “Eh, Andra, kangetin aku aja nih. Hm masih sih sedikit.”
                “Udah ga usah sedih.”
                “hehe.”
                “Kan ada aku, aku kan bisa kamu andalin setiap saat.”
                “Thanks, Ndra.”
                Ya, kemurungan Lyra ini disebabkan karena berakhirnya hubungannya dengan pacarnya atau mungkin sekarang bisa dibilang mantan pacarnya. Mereka udah pacaran hampir 2 tahun. Cowoknya itu ya bisa dibilang tipe cowok idaman cewek-cewek deh. Ganteng, tinggi, putih, setia, ga pernah macem-macem, perhatian, tapi agak sedikit cuek sih. Lyra merasa nyaman saat bersamanya, Reza. Namun, takdir berkata lain. Hubungan itu harus kandas di tengah jalan.

***

                “Kita temenan aja ya?”
                “Kenapa? Aku sayang banget sama kamu. Jangan ngomong gitu.”
                “Aku mau istirahat dulu, pokoknya aku lagi ga mau pacaran.”
                “Kamu kok tega sih sama aku. Kamu jahat!”
               “Maaf, bukan maksud aku buat nyakitin kamu. Tapi mulai sekarang kita harus jalan masing-masing, Ra. Maafin aku ya.”
Tut...tut....tutttt.......
                Isak tangis Lyra pecah seketika setelah dia memutuslan telepon dan mendengar pernyataan Reza bahwa Reza ingin putus dengannya. Betapa sakitnya hati Lyra ketika ia harus mendengar kenyataan yang didapatnya.
                Tapi semuanya sudah terjadi, kenangan manis selama pacaran masih tersimpan rapi di otak Lyra. Bahkan hampir semuanya mengingatkan dengan Reza. Wallpaper hp, foto-foto Reza di laptop, kado dari Reza, tulisan-tulisan tentang Reza di kamar Lyra, dan satu lagi, buku diary yang memuat kenangan indah bersama Reza.
                “Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi? Lyra ga mau pisah sama Reza. Lyra sayang sama Reza. Jangan biarin Reza pergi Tuhan, jangan biarin Reza pergi. Lyra ga sanggup.” Tangis Lyra terdengar pedih, seakan hidupnya sudah berakhir, dia sudah berada di ujung jalan dengan jurang curam, seakan dia tidak bisa lagi menyebrangi jalan dengan jurang yang tidak tau ada apa di dalam jurang tersebut.
                “Jangan biarin Reza pergi!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Jangan!!!!!!!!!!!!!” Lyra berteriak, teriakan dengan tangis yang begitu keras, dan semakin mengeras.
                Lyra memaki dirinya sendiri, memaki sifatnya yang membuat Reza pergi darinya. Lyra ingin rasanya mengulang waktu, yang begitu mustahil dilakukan setelah penyesalan itu datang.
                “Reza, jangan biarin aku sedih. Aku sayang banget sama kamu.” Lyra menelpon Reza sambil menangis, Lyra mengatakannya.
                “Maaf Ra, aku ga mau nyakitin kamu kayak gini. Tapi aku ga bisa, maaf.” Reza menanggapi perkataan Lyra dengan nada yang terdengar sedih juga.
                “kenapa? Aku bisa kok berubah jadi lebih baik, aku bisa, Za. Kasih aku kesempatan terakhir.” Lyra memohon kepada Reza.
                “Maaf, Ra.” Hanya itu yang dapat dikatakan Reza.
Setelah lama meyakinkan Reza, namun Reza tetap pada pendiriannya. Tidak. Sebuah sad ending yang mengenaskan untuk cerita cinta Lyra.

***

Teng! Teng! Teng!
                “heh nona Cuek! Udah bel tuh!.” Andra menyadarkan Lyra dari lamunannya.
                “Oh iya.” Lyra kaget lalu membereskan buku-bukunya. Memasukkan ke dalam tas, dan seketika itu dia beranjak dari tempat duduknya sambil berjalan keluar kelas.
                Baru saja keluar kelas, rasa sakitnya langsung menyerang seketika dia melihat Reza bersama teman-temannya duduk. Kenapa harus melihat Reza lagi ya Tuhan? Kenapa harus setiap hari melihatnya? Tahukah Engkau betapa sakitnya hati ini melihat seseorang yang dulu menjadi milik kita dan sekarang dia sudah bukan menjadi milik kita? Jagakan dia buat aku ya Tuhan, lindungi dia. Jangan biarkan dia sakit. Lyra bergumam dalam hati.
                Lyra bergegas menuju gerbang sekolah, lalu pulang mencari taksi. Lyra kembali ingat kalu dulu ga perlu untuk mencari taksi, karena selalu ada pangeran yang siap mengantarnya pulang pergi sekolah dengan selamat. Yam itu dulu sebelum mereka putus. Oke, putus adalah kata yang menyakitkan.

***

                Lyra menuruni taksi dan membuka pagar rumah, berjalan lemah menuju pintu. Rasanya sudah tidak ada kekuatan lagi buat Lyra untuk menjalani hidup. Sampai di kamar, dihempaskannya tubuhnya ke kasur, tas merah terserak di lantai. Lyra melamun dan tak lama menetes lah air mata di pipinya. Tangisnya pecah, tak kuat ia menahan tangis yang selalu ada dibenaknya.
                Akankah Reza kembali kepadaku? Akankah? Oh aku selalu menunggunya di sini, hingga dia kembali padaku. Ya, suatu saat nanti. Aku percaya, dia akan kembali.
                “Aku ga boleh nangis, aku kuat aku kuat!.” Lyra menyemangati dirinya dengan segera Lyra menyapui air matanya dan bangun dari tempat tidurnya. Kemudian dia mengambil handphone di laci mejanya, semenjak putus dengan Reza, Lyra selalu melupakan handphone genggam kesayangannya itu. Setelah mengambil handphonenya, Lyra kemudian memutar lagu Taylor Swift-Breathe...

I see your face in my mind as I drive away
'Cause none of us thought it was gonna end that way
People are people and sometimes we change our minds
But it's killing me to see you go after all this time

Mmm, mmm, mmm, mmm, mmm, mmm, mmm, mmm
Mmm, mmm, mmm, mmm, mmm, mmm, mmm, mmm

Music starts playin' like the end of a sad movie
It's the kinda ending you don't really wanna see
'Cause it's tragedy and it'll only bring you down
Now I don't know what to be without you around

And we know it's never simple, never easy
Never a clean break, no one here to save me
You're the only thing I know like the back of my hand

And I can't breathe
Without you, but I have to
Breathe
Without you, but I have to

Never wanted this, never want to see you hurt
Every little bump in the road I tried to swerve
People are people and sometimes it doesn't work out
[| From: http://www.elyrics.net/read/t/taylor-swift-lyrics/breathe-lyrics.html |]
Nothing we say is gonna save us from the fall out

And we know it's never simple, never easy
Never a clean break, no one here to save me
You're the only thing I know like the back of my hand

And I can't breathe
Without you, but I have to
Breathe
Without you, but I have to

It's two a.m., feelin' like I just lost a friend
Hope you know it's not easy, easy for me
It's two a.m., feelin' like I just lost a friend
Hope you know this ain't easy, easy for me

And we know it's never simple, never easy
Never a clean break, no one here to save me, oh

I can't breathe
Without you, but I have to
Breathe
Without you, but I have to
Breathe
Without you, but I have to

I'm sorry, I'm sorry, I'm sorry
I'm sorry, I'm sorry, I'm sorry, I'm sorry


                Hah? Ada sms? Dari siapa? Dibukanya inbox itu, dan dilihatnya sms itu. Guess what?? Sms itu dari Ferdi! Ya, Ferdi adalah mantannya Lyra, ia mengirimi Lyra sebuah sms. Ferdi merupakan mantan Lyra yang paling baik. Cuma sayangnya, Lyra dan Ferdi hanya sempat pacaran 2 bulan. Karena Lyra lebih memilih Reza dibanding dengan Ferdi. Oh my god! Is that karma?
Ferdi:
Lyra, keep smile. Dont cry ya J
Lyra:
Iya, makasih.
***

                Sms itu berlanjut, sampai beberapa bulan lamanya. Banyak hal yang dilakukan Ferdi sehingga membuat Lyra bahagia dan kembali. Kalau sudah seperti ini Lyra selalu membagi kebahagiaannya dengan sahabat-sahabatnya, Anne, Andra, Ova, dan Ica. Lyra selalu membagi suka dukanya dengan sahabat-sahabatnya. Lyra menganggap mereka seperti saudaranya sendiri.
                Ketika Ferdi mengatakan bahwa dia masih mencintai Lyra. Lyra tidak bisa mengatakan bahwa dia juga mencintai Ferdi. Entah kenapa Lyra menolaknya, dan memutuskan hanya ingin berteman dengan Ferdi. Betapa hancurnya hati Ferdi saat itu, namun Ferdi tetap bertahan. Siapa tau suatu saat nanti pintu hati Lyra terbuka oleh waktu.
                Namun seiring waktu, Ferdi jatuh hati pada seorang gadis. Dan akhirnya dia memilih gadis itu menjadi pacarnya. Lyra tersenyum bahagia mendengar itu. Ferdi pun akhirnya menemukan gadis yang bisa membuatnya bahagia.
                “Akhirnya Ferdi udah nemuin pengganti aku. How happy i am, God.” Kata Lyra dengan senyuman manis di bibir yang tanpa lipgloss itu. “Thanks udah bikin aku senyum lagi, kamu emang orang yang baik.”

***

                Kini, Lyra terus berdoa dan berdoa. Berdoa agar Reza kembali kepadanya. Menunggu keajaiban yang sepertinya terlihat mustahil untuknya. Akankah Reza kembali padanya?
                Setelah berpikir keras, Lyra memutuskan untuk membuat secangkir coklat hangat. Kebetulan harinya sedang hujan dan udaranya sangat dingin. Dibuatnya secangkir coklat itu, lalu dibawanya cangkir berwarna putih bertuliskan tanggal jadiannya dengan Reza. Gelas itu adalah dibelikan Reza saat mereka pergi ke pameran.
                Lyra duduk di shofa, di dekat jendela, udara saat itu memang saat dingin sehingga Lyra memakai jaket tebal. Diminumnya sedikit demi sedikit coklat panas yang dibuatnya. Sambil menatap keluar jendela, ada sesuatu yang membuat hatinya tak tenang. Udara dingin menggerogoti kulitnya, setelah menggerogoti kulitnya sekarang giliran daging-dagingnya yang merasakan udara dingin, sampai ke tulang, udara itu menusuk jauh ke dalam dirinya. Udara yang masuk bersamaan dengan terbukanya buku kenangan tentang Reza di otak Lyra.
                Reza, kenapa kamu selalu hadir dalam otakku? Aku benci! Kamu selalu saja memenuhi otakku, tapi kamu ga pernah ada di samping aku lagi. Aku membencinya. Aku selalu menunggu, tapi kamu ga pernah datang. Aku benci, Reza. Aku benci semuanya. Tak terkecuali, Kamu.
                Tiba-tiba handphone di saku celananya Lyra bebunyi, diambilnya, dan dilihatnya.
                MAMANYA REZA?! Hah yang bener nih? Ada apa???
                “halo tante, ada apa?”
                “Ini Lyra kan? Bisa tolong datang ke rumah sakit harapan sekarang?.” Suaranya Tante Sari terdengar sedih.
                “Kenapa tante? Lyra ga ngerti.” Lyra bingung dan panik mendengar permintaan Tante Sari.
                “Kamu datang aja sekarang ya, Tante mohon.” Tante Sari menangis.
                “Iya, Lyra ke sana sekarang.” Telpon dimatikan. Secangkir coklat panas ditangannya langsung diletakkan di atas meja. Dan ia bergegas pergi.

***

                Sampainya di rumah sakit, ditemani Andra, Mamanya Reza, Papanya Reza, Lyra menunggu di ruang tunggu operasi. Tak henti-henti Lyra mengeluarkan air mata. Didekapan Andra, Lyra menangis tersedu-sedu. Lyra terkejut akan semua ini...
                Dokter keluar dan bicara kepada Papanya Reza. Sangat serius. Setelah itu mereka semua dipersilakan masuk. Bergegas lah mereka semua masuk.
                “Reza, apa yang terjadi? Kamu kenapa bisa kayak gini? REZA!!!!.” Tangis Lyra terdengar seisi ruangan.
                “Lyra, tante minta maaf. Tante baru bisa ngomong sekarang. Sebenernya udah beberapa tahun ini Reza mengidap penyakit tumor. Tante dilarang Reza cerita ke kamu. Maafin tante.” Tante Sari menceritakan kenapa Reza melarangnya untuk memberitahu Lyra. “Jadi Reza sangat sayang sama kamu, dia ga mau nanti makin terluka dan sakit karenanya.”
                “Reza! Ayo bangun! Aku sayang sama kamu, jangan tinggalin aku lagi. Aku ga bakalan sanggu, Za. Ayo bangun jagoanku,!.” Lyra menangis di samping Reza, Lyra berusaha membangunkan Reza yang dalam kondisi kritis saat itu.
                “Hey, tembem. Jangan nangis, aku ga bakalan pergi kok, aku bakalan di samping kamu terus.” Dengan terbata-bata Reza mengucapkan itu.
                “Kamu harus sembuh ya, biar kita bis bareng-bareng lagi.” Tangan Lyra mengenggam erat tangan Reza. Dan mencium kening Reza.
                “Ga bisa tembem, ini udah jalannya.” Sahut Reza sambil tersenyum pahit.
                “Aku ga bakalan biarin kamu pergi, kamu akan sama aku terus. Janji ya cukring!.” Lyra meyakinkan dirinya bahwa Reza ga bakalan pergi.
                “Aku minta sama kamu boleh ga?” tanya Reza.
                “Minta apa? Pasti!.” Jawab Lyra.
                “Bahagia ya kalau aku ga ada. Kalau kamu kangen aku, kamu bisa liat aku sebagai matahari di siang hari, dan sebagai bintang di malam hari. Aku akan selalu menjaga kamu, tembem. Cari orang yang bisa bahagiain kamu” Kata Reza kepada Lyra.
                “aku maunya kamu, Za. Tapi kamu harus janji bakalan ada saat aku senang atau sedih kan?.” Lyra menangis.
                “ga bisa sayang. Iya mbem, aku janji sama kamu. Ingat ya jangan cengeng. Masa anak SMA cengeng banget.” Tangan Reza mencubit hidungnya Lyra.
                “Za, aku sayang kamu.” Tangis Lyra semakin menjadi-jadi.
                Sambil menyapui air mata dipipi Lyra, Reza berkata,”aku juga sayang sama kamu, sayang banget malah. Maaf udah bikin kamu terluka. Love you tembem.” Kelopak mata Reza tertutup seketika.

***

Ya, Reza sudah meninggalkan dunia ini. Reza pergi meninggalkan aku. Aku akan selalu sayang sama kamu. Aku bakalan ingat pesan kamu, aku kangen kamu. Baik-baik disana ya, love you. Lyra beranjak dari nisan Reza. Dan berjalan keluar pemakaman. Dilubuk hatiku terukir nama km, Za. Ga bakalan ada yang gantiin. Aku janji. Aku sayang kamu, Reza.

                

No comments:

Post a Comment